Mengenal Sosok Waled Cot Meurak, Ulama Kritis Putra Aceh Selatan
BIREUEN – Di balik kesederhanaan pesantren di tepian Krueng Batee Iliek, Samalanga, tersembunyi sosok ulama dengan metode pengajaran yang revolusioner. Tgk. Tarmizi Al-Yusufi, akrab disapa Waled Cot Meurak atau Tgk. Ar, adalah seorang ulama yang keilmuannya diakui luas di Aceh, telah mengubah wajah pendidikan dayah dengan pendekatan kritis dan inovatif.
Lahir pada 5 Oktober 1973 di Aceh Selatan, Waled merupakan putra ulama karismatik Abu Teupin Gajah (Tgk. H. Mhd. Daud Al-Yusufy). Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan Dayah Babussa’adah Pasie Raja, memadukan pendidikan formal dengan limpahan ilmu agama langsung dari sang ayah.
Waled pernah bercerita bahwa pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah Dasar. Matematika menjadi pelajaran favoritnya, yang kelak membentuk logika berpikirnya sistematis dan tajam.
Di balik ketajaman berpikirnya, ada peran besar didikan sang ayah. Saat mengaji kitab kuning, ayahnya selalu mendidik Waled untuk bersikap kritis, aktif bertanya, dan dipaksa berdebat. Metode diskusi ketat inilah yang membentuk mentalitas intelektual Waled.
Kiprah Intelektual di MUDI Mesra
Pada 1989, Waled melanjutkan studi ke Dayah MUDI Mesra Samalanga di bawah asuhan Abu Hasanoel Basri HG atau Abu MUDI. Selama 11 tahun, ia dikenal sangat lekat dengan kitab. Ke mana pun melangkah, ia terus tenggelam dalam muthala’ah. Di sela kesibukan, ia istikamah mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali, 5 juz per hari, yang membuatnya memiliki daya ingat luar biasa.
Kealimannya yang kian matang membuat Abu MUDI memercayakan Waled mengajar para dewan guru senior di Bale Beuton, sebuah kehormatan langka yang hanya diberikan kepada segelintir ulama muda pilihan. Di antaranya yang mendapat kepercayaan ini adalah Ayah Min Cot Trueng, Ayah Sop Jenieb, dan Waled Tarmizi.
Di kawah candradimuka para guru besar MUDI Mesra tersebut, Waled mengkhatamkan berbagai kitab rujukan tinggi lintas disiplin, termasuk Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, Syarah Al-Kubra, Asy-Syamsiyyah, dan Ghayah al-Wushul.
Luar biasanya, khidmah intelektual ini tidak pernah pudar dan terus berlanjut hingga kini. Di tengah kesibukannya memimpin dayah secara mandiri, Waled masih meluangkan waktu menuntun para dewan guru senior MUDI Mesra menyelami Kitab Al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul karya Imam Al-Ghazali.
Dedikasi ini menjadi bukti nyata konsistensinya dalam menjaga mata rantai keilmuan (sanad) sekaligus menjadi mercusuar rujukan ilmiah bagi kader-kader ulama masa depan Aceh.
Mengabdi untuk Dayah Sang Ayah
Selepas MUDI Mesra (2000–2005), Waled pulang ke Aceh Selatan untuk membaktikan diri kepada sang ayah. Ia membangun kembali Dayah Babussa’adah Teupin Gajah dengan inovasi kurikulum dan modernisasi fasilitas.
Setelah menikahi putri seorang tokoh masyarakat Ulee Gle, Waled kembali ke Samalanga. Di sana, ia kembali mengabdi di bawah arahan Abu MUDI dengan mengajar para dewan guru senior, melanjutkan dedikasi keilmuannya yang telah dimulai sebelumnya.
Mendirikan Dayah Najah, Salah Satu Dayah Favorit di Aceh
Pada 17 Juni 2012, Waled mendirikan Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah (Najah) di desa Cot Meurak Kecamatan Samalanga sebagai cabang resmi ke-175 Yayasan Al-Aziziyah MUDI Mesra. Di bawah arahannya, dayah di tepi sungai Krueng Batee Iliek ini berkembang pesat menjadi salah satu dayah favorit di Aceh, lengkap dengan infrastruktur megah.
Di dayah miliknya, Waled justru memilih turun tangan langsung mengajar kelas dasar (Ibtidaiyyah). Dengan pendekatan kritis, ia merevolusi metode ajar agar santri pemula mudah menaklukkan kitab gundul sejak dini.
Hasilnya, hafalan tidak lagi beban. Terbukti, lebih dari 50 persen santri per generasi berhasil menyelesaikan target hafalan kitab Mutammimah hingga Alfiyah Ibnu Malik.
Mencetak Santri Kritis dan Berpikir Mandiri
Keberhasilan Waled tidak hanya terukur dari jumlah hafalan, tetapi juga dari kualitas berpikir kritis para santri. Di bawah bimbingannya, santri tidak hanya menghafal teks, tetapi juga diajak memahami, menganalisis, dan bahkan mengkritisi dalil-dalil dalam kitab kuning.
Metode pengajaran Waled mendorong santri untuk berani bertanya, berdebat, dan mencari kebenaran ilmiah. Ia mengajarkan bahwa ilmu tidak boleh diterima mentah-mentah, tetapi harus diuji dan dipahami secara mendalam.
Ketajaman Analisis dan Istikamah Mengajar
Selain mengawal kelas dasar, Waled aktif mengajar kitab tingkat tinggi. Setiap pagi pukul 08.00–10.30 WIB, ia mengasuh pengajian tingkat tinggi dengan kitab Ghayah al-Wushul, Tafsir al-Baidhawi, Hasyiyah Al-Dasuqi, Mi’yar al-‘Ilm, dan Jauhar al-Maknun. Pada waktu subuh pukul 06.00–07.30 WIB, ia mengajar kitab fikih Kanzul Raghibin.
Ketajaman analisis Waled teruji. Ketika membahas status Mustauthin, ia mengomentari kelemahan dalil yang dibawa teks. Kebenaran pandangannya terkonfirmasi di kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, di mana argumentasi serupa juga ditegaskan oleh ulama besar Abu Ali (Imam Abu Ali Ibnu Abi Hurairah). Kemampuan memprediksi kelemahan dalil ini menjadi bukti luasnya cakrawala muthala’ah dan kejeniusan naluri fikihnya.
Keteladanan Spiritual
Di tengah padatnya jadwal, Waled konsisten tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah dan ketat menjaga amalan sunnah. Harmonisasi antara kedalaman ilmu dan keteguhan mengamalkannya membuat wibawa spiritualnya begitu membekas.***
Ya Allah, curahkan perlindungan, kesehatan sempurna, dan umur berkah kepada guru kami, Waled Cot Meurak. Jadikanlah setiap untaian ilmunya sebagai amal jariyah yang tak terputus.

