Meski Belum Signifikan, Harga Sawit di Aceh Selatan Alami Kenaikan
ACEH SELATAN – Harga tandan buah segar (TBS) di tingkat pengepul atau RAM hari ini, Kamis (6/8/2026), tercatat Rp 2.730 per kilogram. Angka ini naik Rp 30 dibandingkan pekan lalu yang masih berada di posisi Rp 2.700.
Kenaikan itu diungkapkan Yulizar, pemilik RAM Dua Bersaudara (R2B) yang beroperasi di kawasan Kluet Selatan.
“Harga sawit hari ini di tingkat RAM Rp 2.730 per kilogram. Sepekan terakhir sebelumnya masih Rp 2.700, sekarang naik Rp 30,” kata Yulizar saat di konfirmasi media ini, Kamis (6/8/2026).
Meski kenaikannya tipis, Yulizar menilai pergerakan ini cukup berarti bagi petani yang selama ini mengeluhkan biaya produksi yang terus membengkak. Ia berharap tren kenaikan ini terus berlanjut seiring membaiknya harga crude palm oil (CPO) di pasar global.
“Petani berharap harga sawit terus membaik dan ada kepastian dari pemerintah. Kenaikan Rp 30 ini lumayan, tapi kami harap terus naik ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Aceh hingga berita ini diturunkan belum mengeluarkan penetapan harga resmi TBS sawit untuk periode awal Agustus 2026.
Penetapan terakhir yang dirilis adalah untuk periode 29 Juli–11 Agustus 2026 dengan harga tertinggi mencapai Rp 3.763 per kilogram untuk mitra plasma tanaman berumur 10-20 tahun di wilayah timur Aceh.
Namun, realisasi di tingkat petani dan pengepul kerap berbeda dengan harga resmi pemerintah. Di Aceh Selatan, selisih harga tersebut terjadi karena adanya potongan biaya angkut dan operasional yang ditanggung petani.
Sebelumnya, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh menyoroti praktik sejumlah pabrik yang membeli TBS di bawah ketetapan pemerintah. Kondisi ini dinilai merugikan petani yang sudah tertekan oleh ongkos produksi dan perawatan kebun yang terus naik.
Para petani pun menaruh harapan agar Distanbun Aceh segera menggelar rapat koordinasi untuk menetapkan harga terbaru. Dengan adanya kepastian harga, petani bisa merencanakan panen dan penjualan secara lebih baik, sementara seluruh rantai pasok sawit di Aceh dapat berjalan adil dan transparan.***

