Rupiah Kembali Menguat, Tekanan Rp 18.000 Mulai Mereda
JAKARTA – Pergerakan rupiah sepanjang pekan lalu menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Setelah sempat terpuruk di bawah level psikologis Rp 18.000 per dollar AS pada Mei-Juni 2026, kini mata uang Garuda mulai menunjukkan perbaikan.
Mengutip riset Sinarmas Sekuritas, Minggu (9/8/2026), rupiah sempat mengalami underperformance dibandingkan mayoritas mata uang Asia. Bahkan, ketika sejumlah mata uang regional menguat terhadap dollar AS, rupiah justru tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000.
“Kondisi itu sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar dan menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang yang paling banyak disorot di kawasan pada Mei-Juni,” ujar riset Sinarmas Sekuritas.
Namun, kondisi itu kini berbalik 180 derajat. Rupiah tidak lagi tertinggal. Bahkan, mata uang ini mulai bergerak lebih selaras dengan arah pergerakan mata uang regional.
Selain itu, nilai tukar rupiah tercatat menguat dan bergerak di kisaran Rp 17.787 setelah rilis data ekonomi AS pada Jumat (7/8/2026). Angka ini menjadi penanda bahwa rupiah perlahan keluar dari tekanan psikologis yang sempat menghantuinya.
Apa pemicu penguatan rupiah?
Data ketenagakerjaan AS menjadi katalis utama di balik penguatan ini. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) periode Juli mencatat angka yang mengecewakan. Akibatnya, pasar modal meragukan rencana The Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
“Pelemahan dollar akibat data ketenagakerjaan yang buruk justru memberikan ruang penguatan lanjutan yang sangat terbuka bagi rupiah,” ungkap riset Sinarmas Sekuritas.
Selain itu, indeks dollar AS (DXY) cenderung melemah pasca rilis data tersebut. Prospek ekonomi Amerika Serikat yang mendingin turut menekan dollar dan memberi ruang bagi rupiah untuk terus menguat.
Katalis dari dalam negeri
Meski sentimen global berperan besar, faktor domestik juga turut mendorong penguatan rupiah. Aktivitas ekspor nikel dan timah yang kembali dibuka berpotensi mempercepat masuknya Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke dalam negeri. Hal ini akan menambah likuiditas dollar AS segar di pasar domestik.
“Kombinasi antara cadangan devisa yang mencukupi serta normalisasi aktivitas ekspor mineral mentah atau hilirisasi diharapkan dapat mempertahankan momentum pergerakan rupiah,” tutup riset tersebut.
Dengan demikian, stabilitas nilai tukar rupiah ke depan dinilai akan lebih terjaga. Kombinasi antara sentimen global yang mendukung dan pemulihan aktivitas ekspor domestik menjadi fondasi kuat bagi penguatan rupiah berkelanjutan.***
Sumber: Kompas.com, diolah dengan gaya berbeda untuk keperluan editorial.

