Santet, Guna-Guna, dan Akal Sehat
Oleh: Rajel Murzha
Di tengah modernitas dan kemajuan ilmu pengetahuan masih saja ada masyarakat yang percaya pada guna-guna, santet, pelet, dan berbagai bentuk ilmu hitam lainnya. Padahal, jika kita mau berpikir jernih, semua itu hanyalah mitos yang terus diwariskan turun-temurun tanpa dasar yang jelas.
Mari kita renungkan satu hal sederhana. Jika santet dan guna-guna benar-benar ada dan bisa digunakan untuk melumpuhkan musuh, mengapa negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China masih sibuk mengembangkan alutsista dan meracik senjata nuklir yang menghabiskan triliunan dolar? Mengapa mereka tidak cukup menyewa dukun untuk memperkuat militer negara?
Pertanyaan ini menggambarkan betapa tidak masuk akalnya kepercayaan pada ilmu hitam. Logika sederhana mengatakan: jika kekuatan gaib itu nyata dan efektif, tidak akan ada negara yang membuang anggaran fantastis untuk membeli pesawat tempur, rudal, dan persenjataan canggih. Cukup dengan santet, semua musuh bisa dilumpuhkan tanpa biaya besar.
Fakta sejarah juga menegaskan hal ini. Pada tahun 1970-an, pemerintah Amerika melalui CIA menghabiskan jutaan dolar untuk Proyek Stargate, sebuah program rahasia yang bertujuan melatih “mata-mata psikis” untuk melihat rahasia musuh melalui meditasi. Proyek ini berlangsung selama dua dekade, namun pada akhirnya CIA menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun laporan dari para “peramal” itu yang memberikan informasi intelijen yang dapat digunakan. Mereka tidak menemukan bukti ilmiah bahwa kemampuan supranatural itu benar-benar ada.
Kesimpulan serupa juga datang dari James Randi, seorang pesulap dan skeptis terkenal dari Amerika. Ia menawarkan hadiah satu juta dolar bagi siapa saja yang bisa membuktikan kemampuan paranormalnya dalam kondisi laboratorium yang terkontrol. Hingga Randi meninggal pada tahun 2020, tidak ada satu pun yang berhasil mengklaim hadiah itu. Bahkan, hasil uji para peserta tidak pernah lolos dari uji validasi ilmiah. Ini menunjukkan bahwa klaim tentang kekuatan gaib tidak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah.
Di Indonesia, kita memiliki sosok Ferry Irwandi yang konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berpikir logis dan ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan rasional Ferry berhasil membangun kesadaran publik untuk tidak mudah percaya pada klaim mistik yang tidak berdasar. Melalui gaya komunikasi yang logis dan akrab, ia mendorong masyarakat untuk membongkar kepercayaan yang tidak masuk akal.
Faktanya, semua praktik santet yang dilakukan oleh dukun di Indonesia dapat dijelaskan secara ilmiah. Ilmuwan dan psikolog telah membuktikan bahwa apa yang dianggap sebagai “guna-guna” atau “santet” sebenarnya berkaitan dengan sugesti, efek plasebo, gangguan psikologis, atau bahkan racun dan zat kimia yang disusupkan ke dalam makanan atau minuman korban.
Fenomena kesurupan juga sering dianggap sebagai bukti kekuatan gaib. Namun, menurut penelitian, hanya sekitar 1 dari 1000 kasus kesurupan yang benar-benar melibatkan jin. Selebihnya, kesurupan adalah gangguan psikologis seperti histeria massal, gangguan identitas disosiatif, atau kondisi psikosomatik yang dipicu oleh faktor sosial dan budaya. Banyak kasus kesurupan terjadi karena sugesti massal, tekanan psikologis, atau kondisi mental yang tidak stabil.
Coba pikirkan lagi: jika ilmu santet benar-benar ampuh, mengapa polisi masih susah payah menyelidiki kasus dengan metode ilmiah? Mengapa mereka tidak cukup menggandeng dukun untuk membongkar kasus korupsi atau menemukan pelaku kejahatan? Kenyataannya, dalam setiap kasus kriminal, aparat selalu mengandalkan bukti fisik, saksi, dan analisis forensik, bukan dukun.
Saya hanya percaya pada satu hal yang bersifat supranatural: sihir yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Sebagaimana kita percaya pada peristiwa Isra’ Mi’raj yang mustahil secara ilmiah namun kita imani sebagai bentuk keyakinan, begitu pula dengan sihir. Kita meyakininya karena Allah ceritakan dalam Al-Qur’an. Selebihnya, tidak ada. Tidak ada jin dan setan yang bisa melukai seseorang dengan bukti nyata sampai sekarang.
Yang paling kita sayangkan adalah ketika ada anggota keluarga yang sakit, tetapi keluarganya lebih memilih berobat ke dukun daripada dokter. Pasien dibawa ke dukun, bukannya sembuh malah sakitnya semakin parah. Andai saja lebih cepat dibawa ke dokter, mungkin nyawanya bisa selamat. Ini adalah ironi di zaman yang serba maju ini.
Mari kita berhenti hidup dalam ketakutan yang tidak beralasan. Gunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan untuk memahami fenomena. Jika kita terus memelihara kepercayaan pada hal-hal yang tidak nyata, kita akan terus tertinggal dan mudah dimanipulasi oleh oknum yang memanfaatkan ketakutan masyarakat. Mari kita tinggalkan mitos, kuatkan iman, dan gunakan logika dalam menjalani kehidupan.***

