Mahasiswa Aceh Selatan Minta Pemerintah Evaluasi Risiko Bencana di Tengah Aktivitas Tambang

ACEH SELATAN – Aktivitas tambang emas di Samadua, Aceh Selatan, kini menuai perhatian serius dari kalangan mahasiswa. Fahrul Roji, mahasiswa asal Aceh Selatan, meminta pemerintah daerah mengevaluasi risiko bencana sebelum aktivitas pertambangan berlanjut di wilayah tersebut.

PT Mineral Mega Sentosa (MMS) saat ini tengah melakukan eksplorasi emas di Kecamatan Samadua. Perusahaan menyatakan kegiatan masih pada tahap penyelidikan dan penelitian untuk mengetahui potensi sumber daya mineral, belum memasuki tahap operasi produksi atau penambangan komersial. Izin Eksplorasi tersebut mencakup wilayah seluas 739 hektare di tiga gampong, yaitu Gampong Subarang, Gampong Air Sialang Tengah, dan Gampong Lubuk Layu.

Merespons hal itu, Fahrul Roji menilai pemerintah perlu mengkaji ulang aktivitas tambang di Samadua mengingat kondisi geografis Aceh Selatan yang rawan bencana. Menurutnya, daerah tersebut memiliki sejarah panjang bencana ekologis yang masih membekas hingga kini.

“Kami melihat aktivitas tambang di Samadua perlu dipertimbangkan secara matang, karena Aceh Selatan termasuk daerah yang rentan. Terlebih, bencana ekologis di sepanjang aliran DAS Kluet dan pemukiman Trumon belum sepenuhnya pulih,” ujar Fahrul Roji di Aceh Selatan, Senin (10/8/2026).

Selain itu, Fahrul juga mengingatkan bahwa bencana hidrometeorologi yang menerjang Aceh pada akhir November 2025 lalu menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan puluhan hektare lahan pertanian rusak akibat banjir bandang dan longsor yang berasal dari kerusakan ekosistem di hulu.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya tahu akar persoalan ini. Namun, alih-alih melakukan evaluasi dan rekonsiliasi atas bencana, justru ada langkah percepatan perizinan yang bisa memperbesar risiko. Karena itu, ia meminta pemerintah menjadikan bencana 2025 sebagai pelajaran, bukan alasan untuk terus membuka ruang eksploitasi baru.

Di sisi lain, Fahrul menyoroti bahwa aktivitas pertambangan di daerah hulu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan memicu bencana susulan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengutamakan keselamatan masyarakat dan lingkungan sebelum mengambil keputusan terkait eksploitasi sumber daya alam.

Dengan demikian, Fahrul berharap pemerintah lebih mengutamakan langkah-langkah rekonsiliasi dan evaluasi sebelum membuka ruang eksploitasi baru. Keselamatan masyarakat dan lingkungan harus menjadi prioritas utama.

“Kami berharap pemerintah lebih mengutamakan langkah-langkah rekonsiliasi dan evaluasi sebelum membuka ruang eksploitasi baru. Keselamatan masyarakat dan lingkungan harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.***