Skena Gaya Hidup: Di Mana Tempat Identitas Agama Kita?
Di tengah riuhnya urusan memilih outfit of the day (OOTD) dan memburu kafe paling estetis, ada satu pertanyaan yang sering kali luput, atau sengaja kita pinggirkan: Di mana kita menaruh identitas agama kita?
Apakah agama kini hanya sekadar kolom di KTP yang tidak senggol-menyenggol dengan cara kita bersenang-senang? Ataukah, tanpa sadar, kita sedang terjebak dalam disonansi: ingin terlihat paling modern di media sosial, tapi merasa asing dengan nilai-nilai spiritual yang kita peluk?
Menjadi modern dan mengikuti perkembangan zaman sama sekali bukan dosa. Menikmati estetika visual dan tren masa kini juga sah-sah saja. Namun, tantangan terbesar generasi kita hari ini adalah menjaga agar ‘kemasan’ luar tidak sampai mengikis ‘isi’ di dalam.
Identitas agama seharusnya tidak menjadi nomor dua setelah gaya hidup. Agama bukanlah sesuatu yang kaku yang harus disembunyikan agar kita terlihat “keren”. Justru, tantangan paling menarik dari skena hari ini adalah bagaimana kita bisa membawa nilai-nilai spiritual itu masuk ke dalam ruang modernitas. Menjadi pribadi yang relevan dengan zaman, tanpa kehilangan akar iman.
Jadi, sebelum kita kembali larut dalam arus tren berikutnya, mari sejenak berkaca: Apakah gaya hidup kita hari ini mendekatkan kita pada esensi diri, atau justru membuat kita semakin asing dengan identitas sejati kita?
Tantangan generasi kita hari ini justru ada di situ: gimana caranya tetap relevan sama zaman, tanpa kehilangan akar iman. Menjadi bagian dari dunia, tapi punya prinsip yang gak goyah digulung arus tren sekitar kita.
كُنْ نَفْسَكَ وَلَا تَكُنْ إِمَّعَةً
Artinya: “Jadilah dirimu sendiri dan jangan menjadi imma’ah (orang yang cuma ikut-ikutan tanpa prinsip).”
Jangan sampai rasa takut ketinggalan tren dunia (FOMO) membuat kita mengorbankan prinsip iman. Menjadi modern itu pilihan, tapi menjaga identitas spiritual adalah kewajiban.
Yuk, mulai kurangi FOMO sama tren manusia, dan perbanyak FOMO sama rida-Nya. Menurut kalian, tren apa nih yang paling bikin kalian diuji untuk tetap istikamah?.***

