Kenapa Maulid Nabi Disebut Bid’ah Hasanah yang Berpahala? Simak Penjelasan Dua Ulama Besar Ini!
Bagi sebagian orang, perayaan Maulid sering dipertanyakan hukumnya karena tidak dicontohkan di tiga abad pertama Islam. Namun, mari kita baca penjelasan jernih dari dua poros ilmu hadis dan fikih berikut:
1. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (Pakar Hadis)
Beliau menjelaskan bahwa meski formatnya baru, akarnya ada dalam Shahih Bukhari & Muslim. Ketika Nabi ﷺ melihat orang Yahudi berpuasa Asyura sebagai syukur atas selamatnya Nabi Musa, beliau ﷺ ikut berpuasa.
Ibnu Hajar menyimpulkan: Jika bersyukur atas keselamatan seorang nabi saja dianjurkan, maka mengekspresikan syukur atas lahirnya Nabi Muhammad ﷺ—nikmat terbesar alam semesta—tentu jauh lebih utama!
2. Imam Jalaluddin as-Suyuthi (Penulis Kitab al-Hawi lil Fatawi)
Beliau menegaskan bahwa perkumpulan Maulid yang diisi dengan hal-hal positif termasuk dalam Bid’ah Hasanah (hal baru yang bernilai baik) dan pelakunya mendapatkan pahala besar.
Imam as-Suyuthi menuliskan:
أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ… هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَافِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِي وَإِظْهَارِ الفَرْحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ
“Hukum asal pelaksanaan maulid… merupakan perbuatan baru yang dinilai baik (bid’ah hasanah). Orang yang merayakannya akan mendapatkan pahala, karena di dalamnya terdapat pemuliaan terhadap keagungan Nabi dan menunjukkan kebahagiaan serta sukacita atas kelahirannya yang mulia.
”Amalan Utama Maulid Menurut Ulama: Membaca Al-Qur’an, Bersedekah makanan & harta , Melantunkan pujian/syair untuk Rasulullah ﷺ.
Jadi, Maulid bukan sekadar tradisi, tapi momentum menghidupkan cinta, syukur, dan selawat kepada baginda Nabi ﷺ. Sudahkah kita berselawat hari ini?
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.***

