Muzakarah Ulama Aceh Selatan Soroti Kerusakan Sungai dan Lingkungan

ACEH SELATAN – Forum Muzakarah dan Konsolidasi Ulama dalam rangkaian ITQANS II MUQ Aceh Selatan mengangkat isu kelestarian alam sebagai fokus utama, Sabtu (5/9/2026). Para ulama, tokoh agama, dan pemerhati lingkungan duduk bersama membahas persoalan ekologis dari perspektif keagamaan.

Para ulama memberi perhatian serius pada persoalan Sungai Kluet yang kian tercemar. Mereka menilai kerusakan lingkungan tidak cukup hanya ditangani secara teknis, tetapi juga membutuhkan landasan moral dan keagamaan.

Para ulama yang hadir menegaskan bahwa menjaga alam bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari kewajiban syariat.

Tgk. Syahwizal Elsi, Wakil Ketua MPU Aceh Selatan, menekankan bahwa Allah SWT telah mengamanahkan syariat menjaga alam melalui lisan Rasulullah SAW. Amanah ini menjadi tanggung jawab setiap muslim.

“Amanah menjaga alam adalah syariat yang diamanahkan oleh Allah SWT melalui lisan Kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW,” tegas Tgk. Syahwizal Elsi.

Sementara itu, peran ulama dalam edukasi lingkungan juga menjadi sorotan. Ust. Abdurrahman, S.H.I., mantan Da’i Perbatasan Syariat Islam Aceh, menilai keterlibatan ulama sangat penting agar masyarakat memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari ajaran Islam.

“Ulama harus dilibatkan dalam urusan kelestarian alam, edukasi ulama sangat penting dalam menjaga alam karena urusan alam juga bagian dari syariat,” katanya.

Di sisi lain, Tgk. Muhibbut Tibri, anggota MPU Aceh, mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak boleh diselesaikan dengan saling menyalahkan. Ia mendorong semua pihak untuk duduk bersama mencari solusi.

“Dalam urusan alam seperti saat ini, kita tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain tapi diskusi seperti ini mari kita duduk bersama dari segala lini untuk mencari sumber masalahnya kemudian mencari solusinya,” ujar Tgk. Muhibbud Tibri.

Lebih lanjut, selaku tuan rumah, Muhammad Ridho Agung menekankan pentingnya nilai-nilai Al-Qur’an dalam membangun kesadaran lingkungan. Menurutnya, edukasi ekologi harus mulai diajarkan di lembaga pendidikan agar generasi muda memahami tanggung jawab menjaga alam.

“Kita butuh pandangan ulama, kita butuh pandangan agama tentang kelestarian alam yang bersumber dari ilmu dan nilai ajaran Al-Quran yang kemudian pesan dan pelajaran ini kita warisi untuk anak cucu kita lewat muatan lokal ekologi alam sekitar di lembaga pendidikan,” ujar Muhammad Ridho.

Sejumlah pimpinan dayah turut hadir dalam forum ini, termasuk Tgk Sumardi Tarmisal dari Dayah Darul Aitami, Tgk. Thamren Jr. dari Dayah Raudhaturrahmah, Tgk Sakim Efendi dari Dayah Jabar Rahmah, serta 20 perwakilan pimpinan dayah lainnya di Aceh Selatan.

Para peserta menutup forum dengan deklarasi komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam dan memperkuat peran tokoh agama dalam edukasi lingkungan.***